Haul Syekh Maulana Maghribi Di Desa Gunung Wangi Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo dilaksanakan di setiap Tahun dan tahun 2024 dilaksanakan pada Ahad Pahing 15 Sya’ban 1445 H, bertepatan tanggal 25 Februari 2024, yang dihadiri oleh warga masyarakat di Desa Gunung Wangi, dan masyarakat di sekitar Kecamatan Kaligesing, dalam kegiatan tersebut di hadiri pula tokoh masyarakat desa , seluruh Kepala Desa Di Kecamatan kaligesing, Bapak Camat kaligesing, Bapak Koramil   Kecamatan Kaligesing, kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh pemerintah Desa Gunung Wangi,  turut hadir Bapak Pembina Yayasan Pembaharuan Purworejo, Bp. Dr Haryo Koco Buwono, MT, Pengurus Yayasan Pembaharuan Purworejo, Staf khusus Yayasan Pembaharuan Purworejo dan Kepala SMK Pembaharuan Purworejo dan  SMK PN 2 Purworejo, serta perwakilan unsur Pigkar (Persatuan Istri Guru dan Karyawan) SMK Pembaharuan Purworejo dan SMK PN 2 Purworejo,  Kegiatan di mulai Pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 12.45 WIB, dengan menghadirkan narasumber dari Pengasuh Pondok Pesantren Ushuluddin Salaman Magelang,Gus Aushofil Akmal, inti materi  yang disampaikan  :

  1. Syekh Maulana Maghribi, merupakan ulama dari Maroko, yang telah menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa.
  2. Umat Islam wajib mendoakan para leluhur diantaranya Syekh Maulana Maghribi, yang diharapkan umat Islammendapat keberkahannya.
  3. Sebagai umat Allah wajib menjaga, merawat dan melestarikan anugrah yang sudah Allah ciptakan untuk  umat manusia, baik, bumi, air, hewan maupun ciptaan Allah yang lainnya ( Ngopeni Sedulur Sinorowedi )
  4. Ngudi Winih, Tandon Bayu, Angon Mongso, (umat manusiadalam menjalani kehidupan tidak hanya sekedar mengikuti arus mengalir akan tetapi perlu memiliki peganganhidup diantaranya bisa dilakukan dengan Mujahadah, perbanyak mengucap   kalimah Toyyibah agar dosa yang dilakukan diampuni Allah SWT.


Sebelum kegiatan Pengajian berlangsung telah dilaksanakan penggantian kain Luwur oleh tokoh masyarakat, Camat Kecamatan Kaligesing,  Bp. Dr. Haryo Koco Buwono, MT selaku Pembina Yayasan Pembaharuan Purworejo di damping semua keluarga besar Yayasan Pembaharuan Purworejo, penggantian kain luwur ini dilakukan setiap 2 tahun sekali, dengan Panjang kain  57 meter yang digunakan untuk menutup makam Syekh Maulana Maghribi sebanyak 7 lapis Kegiatan Penggantian kain Luwur  ini tidak boleh dilakukan sembarang orang, bahkan untuk penggantian kain luwur  di tahun 2026 sudah ada yang mendaftar dan hanya di batasi 7 orang saja.

Kegiatan ini tidak semata mata mendoakan Ulama Besar Syekh Maulana Maghribi akan tetapi juga mejadi sarana silaturohim dengan sesama muslim dan saudara untuk menguatkan jalinan kekeluargaan, dan yang utama  meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengingatkan kepada siapapun yang datang tentang kebesaran, Keagungan, dan Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, selain juga kagum atas ciptaan- Nya,  suasananya yang sangat sejuk, indah dengan budaya dan peradapan masyarakat yang sangat kental, kekeluargaan yang sangat kuat dan keistimewaannya desa ini hanya terdiri dari satu Rukun Tangga ( RT), satu Rukun Warga ( RW), menandakan jumlah penduduk di desa ini sedikit hanya 80 Kepala Keluarga, namun demikian kegiatan Haul sukses dilaksanakan dengan bukti jamaah sangat banyak walaupun tempatnya cukup menantang berada pada ketinggian 757 MDPL.

Untuk melengkapi kebutuhan masyarakat utamanya para peziarah maka di sebelah makam di bangun Mushola yang unik . Sumber pendanaanpembangun berasal darikontribusi masyarakat, unsur pemerintah dan keluarga almarhum Bapak Ibu Hardjono, BSc.E beliau merupakan pendiri SMK PN Purworejo. Perancang bangunan ( Arsitek ) mushola beliau Bapak Dr. Haryo Koco Buwono, MT, yang saat ini sebagai Pembina Yayasan Pembaharuan Purworejo yang menaungi SMK Pembaharuan Purworejo dan SMK PN 2 Purworejo, keunikan dari mushola tersebut :

  1. Nama mushola mengambil nama dari Ulama Besar yang di makamkan di Gunung Wangi yaitu Mushola Al Magribi
  2. Ukuran empat sisi panjang lima meter memiliki filosofi “Sedulur Papat Kalima Pancer” (mengarah pada keberadaan jagad besar yang dapat memasuki jagad kecil), ,
  3. Mustaka merupakan stilirisasi dari bentuk: gada, daun kluwih, dan bunga gambir. Gada melambangkan keesaan Allah. Daun kluwih mengarah pada kata ‘linuwih’ atau lebih, yaitu manusia akan memiliki kelebihan jika telah melewati tiga tahapan ilmu tasawuf. Sedang bunga gambir melambangkan arum angambar atau keharuman yang menebar.
  4. Kuda-kuda membentuk struktur Joglo (dua susun) artinya ada pada tataran Syariat dan Makrifat. Disisi Mustaka adalah hakikat. pada Nok (di dalam mustaka) terdapat Kayu Cengkeh (Kencenge Wong Akeh = Gotong Royong, sosialisasi, Hablum min nan naas). Hakikatnya manusia adalah bersosialisasi, ramah tamah, kerjasama dan bersatu.
  5.  Atap terbuat dari ijuk  karena masyarakat gunung wangi banyak pohon aren. Kebanyakan produksi gula aren. Mudah didapatkannya. Dan mengikuti tutup makam asli Syekh Maulana Maghribi
  6. Dinding dan lantai semua terbuat dari batu,  Batu dari Kali Bogowonto. Bogowonto adalah gabungan kata Begawane Noto (Syekh Maulana Maghribi adalah Begawan/Pandita yang menata manusia untuk menyatu dengan alam semesta melalui ajaran Islam. Batu tidak dicat agar natural bentuk dan warnanya. Disatukan sehingga menggambarkan  Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Pintu berbentuk gunungan wayang  muncul karena konsep awalnya, saat masuk harus nunduk, dan ditengah gunungan ada Bulus (Mlebune kanthi Alus). gunungan adalah filosofi Surga Neraka, dimana pintu surga hanya bisa dibuka dari dalam. Pintu Mushola bisa dibuka dari luar karena pintu dalam batin manusia yang mau sholat sudah terbuka.
  8. Tahun berdirinya menggunakan Chandra Sengkala menggunakan tahun Hijriah: Wening Yoganing Keblat Manunggal (Wening = 4, Yoganing = 4, Keblat = 4, dan Manunggal = 1, sehingga kalau dibaca dari kanan sesuai kaidah Chandra Sengkala menjadi 1444). Wening Yoganing Keblat Manunggal memiliki makna dalam keheningan menempatkan diri menghadap Kiblat untuk menyatukan diri dengan Sang Pencipta (dengan sholat ragawi dan batiniah).